Welcome to Helda's Blog

Analgetik Anti-piretik NSAIDs (Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs)

Selasa, 28 Desember 2010
Definisi Analgetik anti-piretik NSAID
• Analgetika adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.
• Antipiretik: obat yang menurunkan suhu tubuh yang tinggi
Jadi Analgetik-Antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi.
Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak dan yang berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan. Keadaan psikis sangat mepengaruhi nyeri, misalnya emosi dapat menimbulkan sakit (kepala) atau memperhebatnya, tetapi dapat pula menghindarkan sensasi rangsangan nyeri. Rasa nyeri merupakan suatu gejala, yang berfungsi melindungi tubuh. Nyeri disebabkan oleh rangsangan mekanis, kimiawi atau fisis kalor, listrik yang dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan, memicu pelepasan zat- zat tertentu yang disebut mediator nyeri.
Mediator nyeri antara lain mengakibatkan reaksi radang dan kejang-kejang, yang mengaktivasi reseptor nyeri di ujung saraf- saraf bebas di kulit, mukosa dan jaringan. Mediator nyeri (autacoida) terdiri dari histamin, serotonin, bradykinin, leukotrien, dan prostaglandin.
Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala, fungsinya memberi tanda tentang adanya gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot. Rasa nyeri disebabkan rangsang mekanisme atau kimiawi, kalor atau listrik, yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yang disebut mediator nyeri (pengantara).
Zat ini merangsang, reseptor nyeri yang letaknya pada ujung syaraf bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini rangsang dialirkan melalui syaraf sensoris ke SSP (susunan syaraf pusat), melalui sumsum tulang belakang ke talamus (optikus) kemudian ke pusat nyeri dalam otak besar, dimana rangsang terasa, dimana rangsang terasa sebagai nyeri. Sebagai mediator nyeri adalah:
1. Histamin
2. Serotonin
3. Plasmokinin
4. Prostaglandin
5. Ion kalium

Cara pemberantasan rasa nyeri:
- menghalangi pembentukan rangsang dalam reseptor nyeri perifer oleh analgetik perifer atau olek anestetik lokal
- menghalangi penyaluran rangsang nyeri dalam saraf sensoris, misalnya dengan anestetik lokal
- menghalangi pusat nyeri dalam SSP dengan analgetik sentral (narkotik) atau anestetik umum.

Penanganan nyeri
Rasa nyeri dapat di lawan dengan beberapa cara, yakni:
a. merintangi bentuknya rangsangan pada reseptor nyeri perifer dengan anagetika perifer.
b. merintangi penyaluran rangsangan di saraf- saraf sensoris, misalnya dengan anestetika lokal.
c. Blokade pusat nyeri di SSP dengan analgetika sentral (narkotika) atau denagn anestetika umum.

Jenis nyeri:
a. nyeri ringan, yaitu: sakit gigi, kepala, otot pada infeksi virus, nyeri waktu haid, keseleo
b. nyeri ringan yang menahun, seperti rematik dan artreosis dan terdapat reaksi radang pada sendi
c. nyeri yang hebat, yaitu nyeri organ dalam (lambung, usus) kalik pada penyakit batu ginjal dan empedu.
d. Nyeri hebat yang menahun, misalnya kanker, kadang- kadang rematik dan neuralgia
1) Asetaminophenum (a)
2) Acidum Acetylosalicylicum (a)
3) Methampyronum= Antalgin= Novalgin
4) Natrii Salicylas
5) Phenazonum
6) Salicylamidum
7) Glapheninum (a)
8) Acidum Mephenamicum (Mefenamicacid)
9) Phenylbutazonum
10) Aluminii Acetylsalicylas

• NSAIDs (Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs) digunakan pada nyeri akibat peradangan dan neoropati. NSAID (obat anti-inflammatory drugs) adalah obat yang dipakai untuk mengobati radang sendi. Salah satu NSAID biasanya termasuk dalam pengobatan pasien arthritis. NSAID membantu memerangi penyakit artritis dengan proses inflamasi.
NSAID adalah obat yang mengurangi rasa sakit, demam, dan peradangan. Umumnya NSAID-aspirin dapat membantu mencegah serangan jantung pada beberapa orang. Selain aspirin dan ibuprofen, lain NSAIDs over-the-counter umum termasuk naproxen dan ketoprofen. Acetaminophen bukanlah suatu NSAID. Beberapa NSAID memerlukan resep dokter.
NSAID menawarkan banyak manfaat.Namun, orang yang secara teratur mengambil-obat ini seperti yang dengan kondisi kronis seperti arthritis-adalah lima kali lebih mungkin mengembangkan tukak lambung daripada orang yang tidak membawa mereka. Bahkan pengguna sesekali NSAID-usia apapun-bisa mengembangkan lambung ulkus. But the risk of developing an NSAID induced peptic ulcer increases with Namun risiko mengembangkan bisul perut meningkat diinduksi OAINS dengan:
• dosis dan frekuensi NSAID
• penggunaan beberapa NSAID
• lamanya waktu mengambil NSAID
• usia lebih mungkin terjadi pada orang usia 60 tahun atau lebih
• lebih umum pada wanita dibanding pria
• sejarah tukak lambung
• merokok
• penggunaan alkohol
• penggunaan kortikosteroid, seperti prednison

Fakta dari NSAID
Ada 3 jenis NSAID:
1. SalicylatesaspirinSalisilat (baik, asetat seperti aspirin dan nonacetylated)
2. NSAID Tradisional
3. COX-2 Selective Inhibitor

NSAID bekerja dengan menghalangi aktivitas enzim siklooksigenase, juga dikenal sebagai COX.Penelitian telah menunjukkan bahwa ada dua bentuk, yang dikenal sebagai COX-1 dan COX-2. NSAID mempengaruhi kedua bentuk. COX-1 terlibat dalam menjaga jaringan sehat.
COX-2 Selective InhibitorsCOX-2 terlibat dalam jalur peradangan. COX-2 Inhibitor selektif menjadi subset dari NSAID lahir dari penelitian ini.

NSAID tradisional termasuk:
1. Ansaid (Flurbiprofen)
2. Arthrotec (Diklofenak / Misoprostol)
3. Cataflam (Kalium Diklofenak)
4. Clinoril (Sulindac)
5. Daypro (Oxaprozin)
6. Dolobid (Diflunisal)
7. Feldene (piroksikam)
8. Ibuprofen (Motrin, Advil)
9. Indocin (Indometasin)
10. Ketoprofen (Orudis)
11. Lodine (Etodolac)

COX-2 Inhibitor meliputi:
• Celebrex (celecoxib)
• Vioxx (rofecoxib) (tidak lagi di pasar)
• Bextra (Valdecoxib) (tidak lagi di pasar)

Penggunaan
Obat ini mampu meringankan atau menghilangkan rasa nyeri, tanpa mempengaruhi SSP atau menurunkan kesadarn, juga menimbulkan ketagihan. Obat ini tidak hanya digunakan sebagai obat antinyeri, melainkan juga pada infeksi gangguan infeksi/kuman, seperti salesma, pilek, rema dan encok
Efek samping yang paling umum adalah gangguan lambung- usus, keusakan darah, kerusakan hati dan ginjal, dan juga reaksi alergi pada kulit.

Zat- zat tersendiri:
1. parasetamol: asetaminofen, panadol, tylenol, tempra
efek samping tak jarang terjadi, antara lain reaksi hipersensitivitas dan kelainan darah. Pada penggunaan kronis dari 3-4 g sehari dapat terjadi kerusakan hati, pada dosis di atas 6 g mengakibatkan necrose hati.
2. asam asetilsalisilat (F.I): asetoal, aspirin, cafenol, naspro
Berdaya menghambat agregasi trombosit pada dosis rendah sekali (40 mg). Pada penggunaan nyeri dan demam oral 4 dd o,5- 1 g p.c, maksimum 4 g sehari.
3. aminofenazon: aminipyrin (F.I), amidopyrin, pyramidon
Berkhasiat analgetis, antipiretis, dan antiradang. Resorpsinya di usus cepat, mulai kerjanya sesudah 30-45 menit, plasma t1/2-nya 2-7 jam. Karena efek sampingnya terhadap darah (agranulositosis dan leukopenia) sering fatal.
4. fenilbutazon: butazolidin, skelan, petazon/forte
khasiat anti radangnyalebih kuat daripada daya kerja analgetisnya. Efek sampingnya serius, antara lain terhadap darah dan lambung. Disis pada serangan rema atau encok oral dan rektal 2-3 dd 200 mg.
5. glafenin: glaphen, glifanan
pada dosis biasa, obat ini tidak berdaya antipiretis, potensi kerja analgetisnya dapat disamakan dengan asetosal.
6. tramadol: tramal, theradol
Obat ini digunakan untuk nyeri yang tidak terlampau hebat bila kombinasi parasetamol-kodein dan NSAIDs kurang efektif. Tidak dianjurkan selama kehamilan dan laktasi.


Lain-lain
Ketorlak (toradol) adalah agen antiinflamasi injeksi yang pertama. Seperti NSAID yang lain, obat ini menghambat sintesis prostaglandin, tetapi ia mempunyai khasiat analgesik yang lebih kuat dibandingkan dengan agen-agen antiinflamasi lainnya. Ketorlak dianjurkan pemakaiannya pada penanganan nyeri jangka pendek. Untuk nyeri paca bedah telah terbukti khasiat analgesiknya sama atau lebih dibandingkan analgesik opinoid. Obat ini diberikan intramuskular dalam dosis 30-60 mg untuk dewasa.
Kebanyakan dari NSAID mempunyai efek samping yang lebih sedikit dari aspirin jika dipakai dalam dosis antiinflamasi, tetapi iritasi lambung masih merupakan masalah yang sering terjadi dalam pemakaian NSAID jika tidak disertai makan.

Proses keperawatan NSAID
Pengkajian
 Periksa riwayat klien akan adanya alergi terhadap NSAID, termasuk aspirin. Jika ada alergi beritahu perawat atau dokter yang bertanggung jawab
 Kaji klien terhadap adanya rasa tidak enak pada gastrointestinal dan edema perifer keduanya merupakan efek samping yang sering pada NSAID

Perencanaan
 Proses inflamasi akan mereda dalam waktu 1-3minggu

Intervensi keperawatan
 Pantau klien jika ada feses berwarna seperti ter, perdarahan gusi, petekie dan ekimosis. Waktu pendarahan bisa diperpanjang jika memakai NSAID
 Periksa adanya perubahan dalam hasil tes laboratorium darah jika klien memakai NSAID dari kelompok pirazolon dan terapi obat emas

PENYULUHAN KEPADA KLIEN
 Beritahu klien agar tidak menggunakan aspirin bersama NSAID lain
 Beritahu klien untuk memakai NSAID termasuk aspirin,bersama makanan untuk mengurangi rasa tidak enak pada gastrointestinal

EFEK FARMAKODINAMIK. Semua obat mirip aspirin bersifat antipiretik, analgesik, dan antiinflamasi. Ada perbedaan aktivitas diantara obat-obat tersebut, misalnya parasetamol (asetaminofen) bersifat antipiretik dan analgesik tetapi anti-inflamasinya lemah sekali.

EFEK ANALGESIK. Sebagai analgesik obat mirip aspirin hanya efektif terhadap nyeri intensitas rendah sampai sedang misalnya sakit kepala, mialgia, artralgia, dan nyeri lain yang bersaal dari integumen, juga efektif dengan nyeri yang berkaitan dengan inflamasi. Efek analgesiknya lebih lemah daripada efek analgesik opiat, tetapi berbeda dengan oppiat,obat mirip aspirin tidak menimbulkan ketagihan dan tidak menimbulkan efek samping sentral yang merugikan. Obat mirip aspirin hanya mengubah persepsi modalitas sensorik nyeri, tidak mempengaruhi sensorik lain. Nyeri akibat terpotongnya saraf aferen, tidak teratasi dengan obat mirip aspirin. Sebaalinya nyeri kronis pasca bedah dapat diatasi oleh obat mirip aspirin

EFEK ANTIPIRETIK. Sebagai antipiretik, obat mirip aspirin akan menurunkan suhu badan hanya pada keadaan demam. Walaupun kebanyakan obat ini memperlihatkan efek antipiretik in vitro, tidak semuanya berguna sebagai antipiretik karena bersifat toksik jika digunakan secara rutin atau terlalu lama. Fenilbutazon dan antireumatik tidak dibenarkan digunakan sebagai antipiretik.


MEKANISME KERJA
Telah disebutkan bahwa efek terapi naupun efek samping obat ini sebagian besar tergantung dari penghambatan biosintesis PG. penelitian lanjutan telah membuktikan bahwa PG akan dilepaskan bilamana sel mengalami kerusakan. selain itu obat AINS diketahui menghambat berbagai reaksi biokimiawi, hubungan dengan efek anlgesik, anti-piretik dan anti-inflamasinya belum jelas. selain itu obat AINS secara umum tidak menghambat biosintesis leukotrien, yang diketahui ikut berperan dalam inflamasi. golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu. setiap obat menghambat siklo-oksigenase dengan cara yang berbeda. khusus parasetamol, hambatan biosintesis PG hanya terjadi bila lingkungannya
rendah kladar peroksid seperti di hipotalamus. lokasi inflamasi biasanya mengandung banyak peroksid yang dihasilkan oleh leukosit. ini menjelaskan mengapa efek anti-inflamasi parasetamol praktis tidak ada. aaspirin sendiri menghambat dengan mengasetilasi gugus aktif serin dari enzim ini. sehingga dosis tunggal aspirin 40 mg sehari telah cukup untuk menghambat siklo-oksigenase trombosit manusia selama masa hidup trombosit, yaitu 8- 11 hari.
INFLAMASI. fenomena inflamasi ini meliputi kerusakan mikrovaskuler, meningkatnya permeabilitas kapiler dan migrasi leukosit ke jaringan radang. gejala proses inflamasi yang sudah dikenal ialah kalor, rubor, dolor, tumor dan functio laesa. selam berlangsunya fenomen inflamasi banyak mediator kimiawi yang dilepaskan secara lokal antara lain histamin. 5-hidroksitriptamin (5HT), faktor kemotaktik, bradikinin, leukotrien dan PG. obat mirip aspirin dapat dikatakan tidak berefek terhadap mediator- mediator kimiawi tersebut kecuali PG.
Secara in vitro terbukti bahwa prostaglandin E2 (PGE2) dan prostasiklin (PGI2) dalam jumlah nanogram, menimbulkan eritem, vasodilatasi dan peningkatan aliran darah lokal. histamin dan bradikinin dapat meningkatkan permeabilitas vaskular, tetapi efek vasodilatasinya tidak besar. dengan penambahan sedikit PG, efek eksudasi histamin plasma dan bradikinin menjadi lebih jelas. migrasi leukosit ke jaringan radang merupakan aspek penting dalam proses inflamasi. obat yang menghambat biosintesis PG maupun leukotrien tentu akan lebih poten menekan proses inflamasi.
RASA NYERI. PG hanya berperan pada nyeri yang berkaitan dengan kerusakan jaringan atau inflamasi. penelitian telah membuktikan bahwa PG menyebabkan sensitasi reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi. jadi PG menimbulkan keadaan hiperalgesia. kemudian mediator kimiawi seperti bradikinin dan histamin merangsangnya dan menimbulkan nyeri yang nyata.
obat mirip aspirin tidak mempengaruhi hiperalgesia atau nyeri yang ditimbulkan oleh efek langsung PG. ini menunjukkan bahwa sintesis PG yang dihambat oleh golongan obat ini, dan bukannya blokade langsung.

OBAT AINS
                                                                                                                                                                               
ASAM KARBOKSILAT                                                                             ASAM ENOLAT
                                                                                                                                     
Asam     Derivat      Derivat                      Derivat                                    Derivat                        Derivat
Asetat    Asam         Asam                         Asam                                       Pirazolon                   Oksikam
                Salisilat     Propionat                 Fenamat

          . Aspirin          . As. Tiaprofenat    . As. Mefenamat            . Azapropazon                   . Piroksikam
          . Benorilat      . Fenbuzen                . Meklofenamat            . Fenilbutazon                   . Tenoksikam
          . Diflunisal     .Fenoprofen                                                       . Oksifenbutazon
          . Salsalat         .Flurbiprofen
                                    . Ibuprofen                      
                                    . Ketoprofen
                                    . Naproksen
                                                                                   
                  Derivat Asam Fenilasetat                Derivat Asam Asetat-
                                                                                        Inden/indol:
                        . Diklofenak                                         . Indometasin
                        . Fenklofenak                                      . Sulindak
                                                                                        . Tolmetin

Gambar. Obat Analgesik anti inflamasi non steroid (obat AINS)


     EFEK SAMPING
Selain menimbulkan efek terapi yang sama obat mirip aspirin juga memiliki efek samping serupa, karena didasari oleh hambatan pada sistem bisintesis PG. Efek samping yang paling sering terjadi adalah induksi tukak lambung atau tukak peptik yang kadang- kadand disertai anemia sekunder akibat perdarahan saluran cerna. Beratnya efek samping ini berbeda pada masing- masing obat. Dua mekanismenya terjadi iritasi lambung ialah:
1.    Iritasi yang bersifat local yang menimbulkan difusi kembali asam lambung ke mukosa dan menyebabkan kerusakan jaringan
2.    Iritasi atau perdarahan lambung yang bersifat sistemik melalui hambatan biosintesis PGE2 dan PGI2. Mekanisme kedua ini terjadi pada pemberian parental.

      PEMBAHASAN OBAT
      SALISILAT, SALISILAMID & DIFLUNISAL
 SALISILAT
Asam asetil salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin adalah analgesic antipiretik dan anti-inflamasi yang sangat luas digunakan dan digolongkan dalam obat bebas. Selain sebagai prototip, obat ini merupakan standar dalam menilai efek obat sejenis.
KIMIA. Asam salisilat sangat iritatif, sehingga hanya digunakan sebagai obat luar. Derivatnya yang dapat dipakai secara sistemik adalah ester salisilat dari asam organic dengan substitusi pada gugus hidroksil, misalnya asetosal.
FARMAKODINAMIK. Salisilat merupakan obat yang paling bayak digunakan sebagai anlgesik, antipiretik anti- inflamasi. Aspirin dosis terapi bekerja cepat dan efektif sebagai antipiretik. Dengan laju ini metabolisme juga meningkat. Pada dosis toksik obat ini justru memperlihatkan efek piretik sehingga terjadi demam dan hiperhidrosis pada keracunan berat.
Efek terhadap pernafasan. Efek salisilat pada pernapasan sangat penting dimengerti, karena gejala pada pernapasan tercermin seriusnya gangguan keseimbangan asam basa dalam darah. Pada dosis terapi salisilat mempertinggi konsumsi oksigen dan produksi CO2. Peninggian Pco2 akan merangsang pernapasan sehingga pengeluaran Co2 melalui alveoli bertambah dan Pco2 dalam plasma turun.
Efek terhadap keseimbangan asam basa. Dalam dosis terapi yang tinggi, salisilat menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen dan produksi CO2 terutama di otot skelet karena perangsangan fosforilasi oksidatif.
Efek urikosurik. efek ini sangat ditentukan oleh besarnya dosis. Dosis kecil (1 g atau 2 g sehari) menghambat ekskresi asam urat, sehingga kadar asam urat dalam darah meningkat. efek urikosurik ini bertambah bila urin bersifat basa. Dengan memberikan NaHCO3 kelarutan asam urat dalam urin meningkat sehingga tidak terbentuk Kristal asam urat dalam tubuli ginjal.
Efek terhadap darah. Pada orang sehat aspirin menyebabkan perpanjangan masa perdarahan. Hal ini bukan karena hipoprotrombinaemia, tetapi karena asetilasi siklo- oksigenase trombosit sehingga pembentukan TXA22 terhambat. Pada pemakaian obat antikoagulan jangka lama sebaiknya berhati – hati memberikan aspirin, karena bahaya perdarahan mukosa lambung.
Efek terhadap hati dan ginjal. Salisilat bersifat hepatotoksikdan ini berkaitan dengan dosis, bukan akibat reaksi imun. Gejala yang sering terlihat hanya kenaikan SGOT dan SGPT, beberapa penderita dilaporkan menunjukkan hepatomegali, anoreksia, mual dan ikterus. Salisilat dapat menurunkan fungsi ginjal pada penderita dengan hipovolemia atau gagal jantung.
Efek terhadap saluran cerna. Efek iritasi saluran cerna telah dibicarakan di atas. Perdarahan lambung yang berat dapat terjadi pada dosis besar dan pemberian kronik.

FARMAKOKINETIK. Pada pemberian oral, sebagian salisilat diabsorpsi dengan cepat dalam bentuk utuh di lambung, tetapi sebagian besar usus halus di bagian atas. Asam salisilat diabsorpsi cepat dari kulit sehat, terutama bila dipakai sebagai obat gosok atau salep. Setelah diabsorpsi salisilat segera menyebar ke seluruh jaringan tubuh dan cairan transeluler sehingga ditemukan dalam cairan synovial, cairan spinal, cairan peritoneal, dsb. salisilat di ekskresi dalam bentuk metabolitnya terutama melalui ginjal, sebagian kecil melalui keringat dan empedu.

SEDIAAN. Aspirin (asam asetil salisilat) dan natrium salisilat merupakan sediaan yang paling banyak digunakan. Asam salisilat berbentuk bubuk digunakan sebagai keratolitik dengan dosis tergantung dari penyakit yang akan diobati.

INDIKASI. Antipiresis. Dosis salisilat untuk dewasa ialah 325 mg-650 mg, diberikan secara oral tiap 3 atau 4 jam. Untuk anak 15- 20 mg/kgBB, diberikan tiap 4- 6 jam dengan dosis total tidak melebihi3,6 g per hari.
Demam reumatik akut. Dalam waktu 24- 48 jam setelah pemberian obat yang cukup terjadi pengurangan nyeri, kekakuan, pembengkakan, rasa panas dan merahnya jaringan setempat.
Arthritis rheumatoid. Sebagian penderita arritis rheumatoid dapat dikontrol dengan salisilat saja. Bila hasilnya tidak memadai, dapat digunakan obat lain. Selain menghilangkan rasa nyeri, salisilat jelas menghambat inflamasinya. Dosisnya ialah 4-6 g/hari tetapi dosis 3 g sehari kadang- kadang cukup memuaskan.
Penggunaan lain. Aspirin digunaka untuk mencegah thrombus koroner dan thrombus vena dalam berdasarkan efek penghambatan agregasi trombosit,

INTOKSIKASI. Salisilat sering digunakan untuk mengobati segala keluhan ringan dan tidak berarti sehingga banyak terjadi penyalahgunaan. Keracunan salisilat yang berat dapay menyebabkan kematian. Pada intoksitasi yang lebih berat gejala SSP menjadi lebih jelas disertai timbulnya kegelisahan, iritatif, inkorehensi, rasa cemas, vertigo, tremor, diplopia, delirium.juga terjadi erupsim kulit dan gangguan keseimbangan asam-basa. Terapi intoksikasi mencakup bilas lambung dan koreksi gangguan cairan dan elektrolit. Bilas lambung dilakukan dengan mengeluarkan semua obat yang ditelan. Pada intoksikasi metal salisilat tindakan ini dilakukan sampai tidak tercium bau minyak wintergreen dalam cairan bilasan. Untuk mengatasi demam, kulit diusap denagn alcohol.

SALISILAMID
 Adalah amida asam salisilat yang memperlihatkan efek analgetik dan antipiretik mirirp asetosal, walaupun dalam badan salisilamid tidak diubah menjadi salisilat. Efek analgesic antipiretik salisilamid lebih lemah dari salisilat, karena salisilat dalam mukosa usus mengalami metabolisme lintas pertama, sehingga hanya sebagian salisilamid yang diberikan masuk sirkulasi sebagai zat aktif. Obat ini mudah diabsorpsi usus dan cepat didistribusi ke jaringan. Obat ini menghambat glukuronidasimobat analgesic lain di hati misalnya Na salisilat dan asetaminofen, sehingga pemberian bersama dapat meningkatkan efek terapi dan toksisitas obat tersebut.

DIFLUNISAL. Obat ini merupakan derivat difluorofenil dari asam salisilat, tetapi invivo tidak diubah menjadi asam salisilat. Bersifat analgesik anti-inflamasi tetapi hampir bersifat antipiretik. Indikasi diflunisal hanya sebagai analgesik ringan sampai sedang dengan dosis awal 500 mg disusul 250-500 mg tiap 8-12 jam. Efek sampingnya lebih ringan daripada asetosal dan tidak menyebabkan gangguan pendengaran.

     PARA AMINOFENOL
Asetaminofen (parasetamol) merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik yang sama dan telah digunakan sejak tahun 1893. Efek antipiretik ditimbulkan  oleh gugus aminobenzen.

FARMAKODINAMIK. Efek analgesik parasetamol dan fenasetin serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Keduanya menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga berdasarkan efek sentral seperti salisilat.
Efek anti- inflamasinya sangat lemah, oleh karena itu parasetamol dan fenasetin tidak digunakan sebagai antireumatik. Parasetamol merupakan penghambat biosintesis PG yang lemah. Efek iritasi, erosi dan perdarahan lambung.
INDIKASI.  Di indonesia penggunaan parasetamol sebagai anlgesik dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesik, parasetamol sebaiknya tidak diberikan terlalu lama karena kemungkinan menimbulkan nefropati analgesik. Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolon. Penggunaannya untuk meredakan demam tidak seluas penggunaannya sebagai analgesik.
SEDIAAN DAN POSOLOGI. Paraseamol tersedia sebagai obat tunggal, berbentuk tablet 500 mg atau sirup yang mengandung 120 mg/ 5 ml. Selain itu parasetamol terdapat sebagai sediaan kombinasi tetap, dalam bentuk tablet maupun cairan  dosis parasetamol untuk dewasa 300 mg – 1 g per kali, dengan maksimum 4 g per hari; untuk anak 6- 12 tahun: 150-300 mg/kali, dengan maksimum 1,2 gram per hari. Untuk anak 1-6 tahun: 60-120 mg/ kali dan ayi dibawah 1 tahun: 60 mg/kali; pada keduanya diberikan maksimum 6 kali sehari.
EFEK SAMPING. Manifestasinya berupa eritem atau utikaria dan gejala yang lebih berat berupa demam dan lesi pada mukosa. Fenasetin dapat menyebabkan anemia hemolitik, terutama pada pemakaian kronik. Methemoglobinemia dan sulfhemoglobinemia jarang menimbulkan masalah pada dosis terapi, karena hanya kira- kira 1-3% Hb diubah menjadi met- Hb.
Toksisitas akut. Akibat dosis toksik yang paling serius adalah nekrosis hati. Nekrosis tubuli renalis serta koma hipoglikemik dapat juga terjadi. Anoreksi, mual dan muntah serta sakit perut terjadi dalam 24 jam pertama dan dapat berlangsung selamaseminggu atau lebih. Aktivitas alkali fosfatase dan kadar albumin serum tetap normal. Kerusakan hati dapat mengakibatkan enselofati, koma dan kematian.


Trauma/luka pada sel
Gangguan pada membran sel
Fosfolipid

Enzim fosfolipase



Enzim fosfolipase



Enzim fosfolipase

Dihambat kortikosteroid                               

enzim siklooksigenase


Enzim lipoksigenase
Asam arakidonat
                                                                                                                                                       
                                                                    Dihambat  obat AINS
     Hidroperoksid                                                                      Endoperoksid PGG2/PGH
                                                                   
                                                                                       PGE2, PGF2, PGD                       Prostasiklin       Leukotrien                                                                                    Tromboksan A2

Gambar. Biosintesis prostaglandin
                                               
     PIRAZOLON
ANTIPIRIN, AMINOPIRIN DAN DIPIRON
Antipirin (fenazon)adalah 5-okso-1- fenil-2,3-dimetilpirazolidin. Aminopirin (aminodopirin) adalah derivat 4- dimetilamino dari antipirin. Dipiron adalah derivat metansulfonat dari aminopirin yang larut baik dalam air dan dapat diberikan secara suntikan.
INDIKASI. Saat ini dipiron hanya digunakan sebagai analgesik antipiretik karena efek anti inflamasinya lemah. Sedangkan antipirin dan aminopirin tidak digunakan lagi karena lebih toksik daripada dipiron. Karena keamanan obat ini diragukan, sebaiknya dipiron hanya diberikan bila dibutuhkan analgesik antipiretik suntikan atau bila pasien tidak tahan analgesik-antipiretik yang lebih aman. Dosis untuk dipiron ialah tiga kali 0,3-1 gram sehari. Dipiron tersedia dalam bemntuk tablet 500 mgdan larutan obat suntik yang mengandung 500 mg/ml.
Efek samping dan intoksikasi. Semua derivat pirazolon dapat menyebabkan agranulositosis, anemia aplastik dan trombositopenia, efek samping ini banyak terjadi damn bersifat fatal, sehingga pemakaiannya sangat dibatasi atau dilarang sama sekali. Pada pemakaian dipiron jangka panjang, harus diperhatikan kemungkinan diskrasia darah ini, dapat menimbulkanhemolisis, udem, tremor, mual dan muntah, perdarahan lambung dan anuria.
FENILBUTAZON DAN OKSIFENBUTAZON
Fenilbutazon adalah 3,5- diokso- 1,2- difenil-4- butilpirazolidin dan oksifenilbutazon adalah derivat oksifenilnya. Fenilbutazon digunakan untuk mengobati artritis reumatoid dan sejenisnya sejak tahun 1949.
FARMAKODINAMIK. Efek anti-inflamasi fenilbutazon untuk penyakit atritis reumatoid dan sejenisnya sama kuat dengan salisilat, tetapi efek toksiknya berbeda. Efek analgesik terhadap nyeri yang sebabnya nonreumatik lebih lemah dari salisilat. Fenilbutazon memperlihatkan retensi natrium klorida yang nyata, disertai dengan pengurangan diuresis dan dapat menimbulkan udem. Fenilbutazon memperlihatkan efek urikosurik ringan dengan menghambat reabsorpsi asam urat melalui tubuli.
FARMAKOKINETIK. Fenilbutazon diabsorpsi dengan cepat dan sempurna pada pemberian per oral. Kadar tertinggi dicapai dalam waktu 2 jam. Fenilbutazon dan oksifenbutazon diekskresi melalui ginjal secar lambat, karena ikatannya dengan protein plasma membatasi filtrasi glomerulus.
Interaksi obat. Karena afinitasnya terhadap protein plasma lebih kuat daripada obat lain, maka fenilbutazon dan oksifenbutazon dapat menggeser obat lain dari ikatannya dengan protein. Pemakaian fenilbutazon dan oksifenbutazon bersama dengananti koagulan oral dan hipoglikemik oral haruslah diawasi secara ketat
Sediaan. Fenilbutazon tersedia sebagai tablet bersalut gula 100 mg dan 200 mg. Juga ada dalam bentuk suntikan . oksifenbutazon tersedia dalam bentuk tablet 100 mg.
Indikasi. Dalam klinik fenilbutazon dan oksifentazon digunakan untuk mengobati penyakit pirai (gout) akut, arthritis rheumatoid dan gangguan sendi otot lainnya misalnya spondilitis ankilosa, osteoatritis. Karena toksisitasnya, fenilbutazon haya digunakan bila obat lain yang lebih aman tidak efektif  lagi.
Efek non terapi. Alergi terhadap fenilbutazon dan oksifentazon sering terjadi berupa reaksi kulit seperti urtikaria, udem angioneurotik, eritema nodosum, sindrom Stevens-Johnson, dermatitis eksfoliativa dan lain-lain. Kedua obat ini mengiritasi lambung cukup kuat sehingga sering menimbulkan keluhan pada epigastrium, bahkan dapat menyebabkan korosi lambung, tukak lambung akut atau kronik dan perdarahan lambung. Efek samping lain seperti vertigo, insomnia, euphoria, hematuria, dan penglihatan kabur pernah dilaporkan.
Kontraindikasi. Fenilbutazon dan oksifentazon dikontraindikasikan pada penderita dengan hipertensi, penyakit jantung, penyakkit ginjal, dan gangguan fungsi hati sehubungan dengan sifatnya yang menyebabkan retensiair dan natrium.

      ANALGESIK ANTI-INFLAMASI NONSTEROID LAINNYA
Beberapa AINS dibawak ini umumnya bersifat anti-inflamasi, analgesic, antipiretik. Efek antipiretiknya baru terlihat pada dosis yang lebih besar daripada efek analgesiknya, dan AINS relatif lebih toksik daripada antipiretik klasik, maka obat-obat ini hanya diguunakan untuk terapi penyakit inflamasi sendi seperti arthritis rheumatoid, osteoatritis, spondilitis ankilosa dan penyakit pirai.
ASAM MEFENAMAT DAN MEKLOFENAMAT
Asam mefenamat digunakan sebagai analgesic; sebagai anti-inflamasi, asam mefenamat kurang efektif dibandingkan aspirin. Meklofenamat digunakan sebagai obat anti-inflamasi pada terapi arthritis rheumatoid dan osteoatritis. Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dyspepsia dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.
DIKLOFENAK. Absorpsi obat ini melalui saluran cerna berlangsung cepat dan lengkap. Obat ini terikat 99% pada protein plasma dan mengalami efek lintas awal (first-pass) sebesar 40-50 %. Efek samping yang lazim ialah mual, gastritis, eritama kulit dan sakit kepala sama seperti semua obat AINS, pemakaian obat ini harus berhati- hati pada penderita tukak lambung. Pemakaian selama kehamilan tidak dianjurkan. Dosis orang dewasa 100-150 mg sehari terbagi dua atau 3 dosis.
FENBUZEN. Berbeda dengan obat AINS lainnya, fenbuzen merupak suatu pro-dug. Jadi fenbuzen sendiri bersifat inaktif dan metabolit aktifnya adalah asam 4-bifenil-asetat. Efek samping obat ini sama seperti obat AINS lain. Pemakaian pada penderita tukak lambung harus berhati-hati. Pada gangguan ginjal, dosis harus dikurangi. Dosis untuk indikasi penyakit rheumatoid sendi adalah dua kali 300 mg sehari dan dosis penunjang satu kali sehari 600 mg sebelum tidur.
IBUPROFEN. Merupakan derivat asam propionate yang diperkenalkan dibanyak Negara. Obat ini bersifat analgesic dengan daya anti-inflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama seperti aspirin. Efek anti-inflamasinya terlihat dengan dosis 1200-2400 mg sehari. Obat AINS derivate asam propionat hampir seluruhnya terikat pada protein plasma, efek interaksi misalnya penggeseran obat warfarin dan oral hipoglikemik hamper tidak ada.
KETOPROFEN. Derivate asam propionate ini memiliki efektivitas seperti ibuprofen dengan sifat anti-inflamasi sedang. Absorpsi berlangsung baik dari lambung dan waktu parih plasma sekitar 2 jam. Efek samping sama dengan AINS lain terutama menyebabkan gangguan  saluran cerna, dan reaksi hipersensitivitas. Dosis 2 kali 100 mg sehari, tetapi sebaiknya ditentukan secara individual.
NAPROKSEN.  Merupakan salah satu derivate asam propionate yang efektif dan insiden efek samping obat ini lebih rendah dibandingkan derivate asam propionate lain. Tidak terdapat korelasi antara efektivitas dan kadar plasma. Ikatan obat ini dengan protein plasma 98-99 %. Efek samping yang dapat timbul ialah dyspepsia ringan sampai perdarahan lambung. Efek samping terhadap SSP berupa salit kepala, pusing, rasa lelah dan ototoksisitas. Dosis untuk terapi penyakit reumatik sendi adalah 2 kali 250-375 mg sehari. Bila perlu dapat diberikan 2 kali 500 mg sehari.
ASAM TIAPROFENAT. Asam tiaprofenat memperlihatkan sifat sama seperti derivate asam propionate lainnya. Waktu paruh dalam plasma kira-kira 2 jam dan eksresi terutama melalui ginjal sebagai konjugat asilglukuronida. Efek samping sama seperti obat AINS lainnya. Dosis 3 kali 200 mg sehari.
INDOMETASIN. Merupakan derivate indol-asam asetat. Obat ini sudah dikenal sejak 1963 untuk pengobatan arthritis rheumatoid dan sejenisnya. Walaupun obat ini efektif tetapi karena toksik maka penggunaan obat ini dibatasi. Indometasin memiliki efek anti-inflamasi dan analgesic-antipiretik yang kira-kira sebanding dengan aspirin. Efek samping tergantung dosis da insidennya cukup tinggi. Efek samping saluran cerna berupa nyeri abdomen, diare, perdarahan lambung dan pankreatis. Dosis indometasin yang lazim ialah 2-4 kali 25 mg sehari. Untuk mengurangi gejala reumatik di malam hari, indometasin diberikan 50-100 mg sebelum tidur.
PIROKSIKAM. Obat ini merupakan salah satu AINS dengan struktur baru yaitu oksilam. Waktu paruh dalam plasma lebih dari 45 jam sehingga dapat diberikan hanya sekali sehari. Obat ini menjalani siklus enterohepatik. Efek samping tersering adalah gangguan saluran cerna antara lain yang berta adalah tukak lambung. Efek samping lain adalah pusing, tinifus, nyeri kepala dan eritem kulit. Tidak dianjurkan pada orang hamil.
NABUMETON. Salah satu obat AINS terbaru merupakan pro-dug. Obat ini diserap cepat dari saluran cerna dan di hati akan dikonversi ke satu atau lebih zat aktifnya.metabolit ini menghambat kuat dari enzim siklo-oksigenase. Zat aktif tersebut diinaktivasi di hati secara o-demetilasi dan kemudian dikonjugasi untuk di ekskresi. Efek samping yang timbu selama pengobatan relatif lebih sedikit, terutama efek samping terhadap saluran cerna.
Farmakokinetik. Dengan dosis 1 gram/hari didapatkan waktu paruh (T ½) sekitar 24 jam (22,5 +/- 3,7 jam). Pada kelompok usia lanjut, T ½ ini bertambah panjang dengan 3-7 jam. 

0 komentar:

Poskan Komentar